Puisi “Tanda Diatass pasir”
Badai menerbangkan pasir yang diburu
para serrdadu di rerimbunan batu nisan seperti riuh ikan tersangkut jarring
nelayan
Reranting di atas dangau melesat
seperti peluru ke kafe-kafe berirama
sumbang di bising malam
Kau di sana,mengayuh murka sambil
meniup bara yang menyala di keala sejak kapal tiba
Ini bukan sandiwara katamu,sambil
meracik kata yang terserak di pinggir kota ditemani para bidadari dari ujung
hati sampai mata kaki
Lalu kau tiup juga lilinyang
melelehkan ingatan tentang kematian kampong halaman dan sedu sedan






0 komentar:
Posting Komentar