Puisi “Malam Pinangan”
Aku ingin menemani hamparan swah
yang memanjang di hatimu dengan padi-padi yang tumbuh dari gairah jiwaku lalu
kualiri dengan sungai yang memancar dilubuk rindu
Dengarlah seruling cinta
itu,mengalun sampai kepadang-padang beriring kasidah panjang di keremangan
petang
Aku ingi melingkarkan sebait puisi
di jemarimu sampai embun pagi memutih menghapus kesunyian kita di sepanjang
pematang saat senja nama anak-anak yang tertulis disetiap bulir padi hinggaa
menguning dan berwarna gadig
Semalam,aku menunggu bukit-bukit
meluruhkan bunganya sebab di rambutmu yang gambut ingin kusemai doa-doa agar
matamu memancarkan cahaya seperti bintang-bintang
Saat pelangi melukis arnamewarnai
rumah kita ketika kau menerjemahkan isyarat angin menjadi bahasa cinta
Lihatlah,menjelang malam tuhan
mengirimi bulan hingga puisi yang melekat di jemarimu berkilauan
Kunang-kunang pun menabuh reranting
menjadi irama merdu burung-burung kemudian memahat kesetiaan dengan paruhnya
yang meruncing karena rindu
Tiba didermaga,ayah dan ibu
kita,pasangan kekasih tua itu member sebuah sampan yang ditatahkanya dari batu
karang sebab laut kan mengiringi,dengan gelombang surut dan pasang saat waktu
membuktikan setiap makna dari kata-lata yang kita kayuh berdua






0 komentar:
Posting Komentar