Rabu, 13 November 2013

Mallam Pinangan

Puisi “Malam Pinangan”

Aku ingin menemani hamparan swah yang memanjang di hatimu dengan padi-padi yang tumbuh dari gairah jiwaku lalu kualiri dengan sungai yang memancar dilubuk rindu
Dengarlah seruling cinta itu,mengalun sampai kepadang-padang beriring kasidah panjang di keremangan petang

Aku ingi melingkarkan sebait puisi di jemarimu sampai embun pagi memutih menghapus kesunyian kita di sepanjang pematang saat senja nama anak-anak yang tertulis disetiap bulir padi hinggaa menguning dan berwarna gadig

Semalam,aku menunggu bukit-bukit meluruhkan bunganya sebab di rambutmu yang gambut ingin kusemai doa-doa agar matamu memancarkan cahaya seperti bintang-bintang
Saat pelangi melukis arnamewarnai rumah kita ketika kau menerjemahkan isyarat angin menjadi bahasa cinta

Lihatlah,menjelang malam tuhan mengirimi bulan hingga puisi yang melekat di jemarimu berkilauan
Kunang-kunang pun menabuh reranting menjadi irama merdu burung-burung kemudian memahat kesetiaan dengan paruhnya yang meruncing karena rindu

Tiba didermaga,ayah dan ibu kita,pasangan kekasih tua itu member sebuah sampan yang ditatahkanya dari batu karang sebab laut kan mengiringi,dengan gelombang surut dan pasang saat waktu membuktikan setiap makna dari kata-lata yang kita kayuh berdua


0 komentar: