Puisi “Bahasa Alam”
Setiap kita lupa cuaca
selalu saja
menorehkan luka
hutan yang ditebas,perbukitan gundul menjadikan
hari-hari
terasa mandul
air bah mengalirkan gundah
gempa meretakan duka dan kita teteap
tak mengeja makna
Sujud kita mungkin terllu singkat
dan sajadah selalu berdebu dan terlipat di balik buramnya lentera kehidupan
dengan bencana yang menikam lalu meneggelamkan harapan






0 komentar:
Posting Komentar