Puisi “Riwayat Cinta”
Setiap kali mengamati sisa airmata
di pipimu aku seperti menyelami sebuah danau yang hijau karena aku ikan yang
merrayap di celah rerumputan sambil meniupkan gelembng-gelembung ke permukaan
Karena kau seekor bangau yang menunggu
Hingga rintik gerrimis memaksaku
menjadi nelayan yang termenung di atas sampan melemparkan jala ke setiap
penjuru sambil berharap terrsangkut di reranting perdu karena kau setangkai
bunga yang bisu
Dengan luka yang sama,kumaknai
isyarat angin sampai burung-burung yang bersarang di kepalaku mengabarkan para
peri mandi didanau
Aku ingin mencuri pelangi yang
melilit tubuhmu sampai lanskap senja membentuk silhuetbmerah jambu
Akhirnya buah khuldi yang kau lempar
selepas malam menancap dileherku.hingga terdengar parau untuk sekadar mengucap
subuah kalimat cinta
Sebab kau ingiin aku kembali menjadi
ikan yang merenangi setiap danau di tubuhmu






0 komentar:
Posting Komentar