Puisi “ Langgam Kuala Cinta”
By
: variasi legenda putrid tujuh
Bagai si empang kuala di sarang
umai,aku meliaht kilau tubuhmu serupa duyung tersuruk di lubuk.kaukah si mayang
sari,mayang mengurai?
Mendendangkan pantun di bawah
purnama,bibir delima,kulit sutera
Ohoi. . . hatiku berkecai di hulu
sungai tersebab serumpun bunga tanjung menetak jantung
Lupakan tepak
sirih,gambir,pinang,dan seserpih masa lalu aaku akan mencintaimu tanpa muslihat
,gendam,nujuman dengarlah dara cik sima ! sumpahku telah berkhir di hutan
pinangan bersama rambutmu yang menjuntai di rimbun bakau hatiku galau,hatiku
risau,cintaku
Jangan biarkan selat memeraholeh
darah,dirajam amarah karna tiga purnama tak cukup untuk menghanyutkan cintaku di
sungaimu yang dipenuhi uluh nperindu sampai kau dengar langgam angin yang
bertiup dari hulu mengabarkan segala kisah tentang pangeran gelisah
Akan kulayari tujuh laut,tujuh
pulau,sampai ke langit tujuh untuk menemukan jiwamu,cintaku.tanpa pedang dan
kelewang lalu membawamu ke gua-gua tempat para dewa melabuhkan murka agar
kembali menyatu dengan tubuh yang baku tersebab air mata telah menggarami duka
rindu
Aku kan bertandang lagi,tanpa
gendering perangg sebab di hulu umai,perahuku ingin melayari rahimmu sampai
muara tempat kita menghanyutkan segala murka karena cinta
*legenda
putrid tujuh adalah cerita asmaranda yang berkembang di pesisir riau,tentang
asmara tak terbalas seorang pangeran empang kuala yang menyebabkan perang dan
kematian tujuh putrid kerajaan seri bunga tanjung.puisi ini merupakan variasai
dan antithesis dari cerita tersebut.






0 komentar:
Posting Komentar