Puisi “Elegi Para Petani”
Kepada matahari,juga burung-burung
kucangkulkan imaji di bukit-bukit,sungai,dn nagari.ladng-ladang begitu sunyi
menungui ilalang dan kemarau menyanyika puisi
Kidung musim panen di pematang
seperti suara detak jam yang membisikkanku jalan pulang
Sebatang kalimat,mulai bertunas dan
menggeliat gabah melepuh di gudang-gudang,setelah kapal dagang menaburkan beras
dari negara tetangga yang menggarami sawah-sawah melukai lambung petani di kampungnya
yang kerontang
Anak-anak mengairi kata-kata di
balik tumpukan,rerimbunan masa deepan yang menjelma sendu sedan,sebab musim
hujan menenggelamkan harapan-harqpqn bqngku sekolah,dinding-dinding kemelaratan
Sampai roda pedati menjadi begitu
menyayat bulan basah oleh keringat ,berrhulu di bukit tempat petani menabuh
gendang dan kembang kemiskinan di saah-sawah yang ditumbuhi elegy juga cerita
tentang gubuk-gubuk renta,beratap gulma
Akhirnya puisi juga yang tumbuh dan
menguning hingga musim paen tiba,musim orang-orang memetik airmata di ematang
dan ladang-ladang pembantaian yang memengal rencana daan impian






0 komentar:
Posting Komentar