Rabu, 13 November 2013

Elegi Para Petani

Puisi  “Elegi Para Petani”

Kepada matahari,juga burung-burung kucangkulkan imaji di bukit-bukit,sungai,dn nagari.ladng-ladang begitu sunyi menungui ilalang dan kemarau menyanyika puisi
Kidung musim panen di pematang seperti suara detak jam yang membisikkanku jalan pulang

Sebatang kalimat,mulai bertunas dan menggeliat gabah melepuh di gudang-gudang,setelah kapal dagang menaburkan beras dari negara tetangga yang menggarami sawah-sawah melukai lambung petani di kampungnya yang kerontang

Anak-anak mengairi kata-kata di balik tumpukan,rerimbunan masa deepan yang menjelma sendu sedan,sebab musim hujan menenggelamkan harapan-harqpqn bqngku sekolah,dinding-dinding kemelaratan

Sampai roda pedati menjadi begitu menyayat bulan basah oleh keringat ,berrhulu di bukit tempat petani menabuh gendang dan kembang kemiskinan di saah-sawah yang ditumbuhi elegy juga cerita tentang gubuk-gubuk renta,beratap gulma


Akhirnya puisi juga yang tumbuh dan menguning hingga musim paen tiba,musim orang-orang memetik airmata di ematang dan ladang-ladang pembantaian yang memengal rencana daan impian

0 komentar: