Rabu, 13 November 2013

Luka Padang Pasir

Puisi  “Luka Padang Pasir”

Aku melihat puing-puing rembulan di seribu satu malam mengantarkan air mata yang tumpah di tengah gurun kering para ksatria di bawah badai amunisi meneriakkan takbir sementara tentara  hitam semakin mengganas dengan sejuta muslihat mengenggam dunia yang semakin buta

Barang kali seribu satu puisi tak cukup untuk menahan duka timur tengah kembali menangis ketika perempuan memeluk jasad bayinya yang wafat saat sebelum adzan subuh belum usai
Juga bocah-bocah yang berbaaring di samping jenasah ibunya

Aku disini serupa batu yang berdoa lewat kata-kata mengurai luka padang pasir yang tergilas sebuah ambisi dari orang-orang yang datang untuk mengali kubur sendiri

0 komentar: