Puisi “Luka Padang Pasir”
Aku melihat puing-puing rembulan di
seribu satu malam mengantarkan air mata yang tumpah di tengah gurun kering para
ksatria di bawah badai amunisi meneriakkan takbir sementara tentara hitam semakin mengganas dengan sejuta
muslihat mengenggam dunia yang semakin buta
Barang kali seribu satu puisi tak
cukup untuk menahan duka timur tengah kembali menangis ketika perempuan memeluk
jasad bayinya yang wafat saat sebelum adzan subuh belum usai
Juga bocah-bocah yang berbaaring di
samping jenasah ibunya






0 komentar:
Posting Komentar