Puisi “Sebab Cinta Bukan Puisi”
Masihkah kau selalu mencemburui
tanda baca sementara ruang-ruang imajinasi telah penuh dengan duka aku telah
lelah mengelilingi setiap lekuk angin
Yang berhembus di sudut-sudut ranjang
dengan rajutan kusam warna-warna kerinduan telah mengelupas dari kota asalnya
Kalimat-kalimat beku itu senantiasa
kau kirimkan setiap malam bersama bintang-bintang berjatuhan diatas meja makan
namun masih saja kau katakana rembulan terlelap kesepian dalam rotasi malam
yang bergerak perlahan-lahan
Datanglah padaku,setelah bayangan
matahari itu berlalu kemudian ucapkan selamat tinggal pada kalender-kalender
masa lalu yang selam ini bereingkarnasi menjadi mimpi snyi sebab cint bukan
puisi seperti yang kau nyanyikan setiap pagi






0 komentar:
Posting Komentar