Puisi “ketika Subuh”
Selimut itu selallu saja
mengisyaratkan maut seperti warna fajar di fallujudah dan aku masih terjebak
dalam kantuk yang buruk dalam jeruji kamar dngan dinding memar karena setiao
hari selalu terbakar gemuruh bahasa yang menyala tanpa dosa
Ah,subuh masih terlallu dingin
setelah semalaman hujan melumpuhkan setiap mimpi yang berawal dengan ketakutan
sebb setiap saat nyawa tercerabat dari akarnya jasad kita,yang tak pernah
sempurna
”asshalaatu
Khairum minan naum . . . .”






0 komentar:
Posting Komentar