Rabu, 13 November 2013

Ketika Subuh

Puisi  “ketika Subuh”

Selimut itu selallu saja mengisyaratkan maut seperti warna fajar di fallujudah dan aku masih terjebak dalam kantuk yang buruk dalam jeruji kamar dngan dinding memar karena setiao hari selalu terbakar gemuruh bahasa yang menyala tanpa dosa

Ah,subuh masih terlallu dingin setelah semalaman hujan melumpuhkan setiap mimpi yang berawal dengan ketakutan sebb setiap saat nyawa tercerabat dari akarnya jasad kita,yang tak pernah sempurna


asshalaatu Khairum minan naum . . . .”

0 komentar: