Puisi “Kuambil rembulan Di jantungmu”
:yang
terhormat arwah raja Ali haji
Waktu.itulah telah membawaku
mengarungi gemuruh bahasa sambil mendidihkan kata-kata
setiap bahasa memiliki tanda koma
titik dan tanda baca etimologi itu
tumbuh dari kesunyian yang menggenang
dalam ceruk kehidupan
kita hanya bertemu dalam
baying-bayang tanpa pernah mengarungi hujan dan menjerang di bukit-bukit puisi
atau gunung-gunung prosa
kubaca lagi gurindam yang telah lama
diam dalam kesepian sambil mengeja surga neraka
di samping kitab suci ku ziarahi
diriku yang telah lama berserak di anrata buku-buku di dalam lemari tanpa kaca
bukan sekedar eulogi kembali
kutaburkan serpihan kata-kata lewat angin yang berhembus menjelang adzan subuh
mengemasi malam rapuh.
Rembulan tumbuh didadamu
gurindam bersemai di celah-celah
jantungmu dan berakar hingga disudut-sudut jemari.
”barang siapa memetik dan mengkaji
buahnya takkan tersesat di padang kata”
Petuah melayu.mengatar rindu pada
persinggahan-persinggahan waktu
sebelum mengelana di jalan-jalan yang
memanjang sepanjang peradaban
berbaur bersama kepingan-kepingan
cahaya yang memedar dari serpihan kehidupan
kembali kupahat rembulan yang
mengapung sehabis gerimis mengetuk pagi
kemudian kuambil rembulan yang
tumbuh di jantungmu.






0 komentar:
Posting Komentar