This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Senin, 19 Mei 2014

puisi musisi tua

Puisi “Musisi Tua”

Dari balik lensa matahari pagi aku melihat jemarimu memetik sunyi menyusun beberapa simfoni di antara secangkir kopi dan sekerat roti

Di sebuah kedai kursi bambu betung menjelma panggung beriring tabuhan lautan dan deddaunan

Sepasang stiker kehidupan melekat di lekuk gitarmu yang selalu gemetar saat menerjemahkan nada dengar suara samar

Menyanyikan perjalanan yang menjadi kenangan tanpa luka mengarami cinta pada suatu masa

Disepanjang dawai ada cerita tesembunyi yang mengalun merdu dalam lagu sendu serrupa duka rindu

Rabu, 13 November 2013

Luka Padang Pasir

Puisi  “Luka Padang Pasir”

Aku melihat puing-puing rembulan di seribu satu malam mengantarkan air mata yang tumpah di tengah gurun kering para ksatria di bawah badai amunisi meneriakkan takbir sementara tentara  hitam semakin mengganas dengan sejuta muslihat mengenggam dunia yang semakin buta

Barang kali seribu satu puisi tak cukup untuk menahan duka timur tengah kembali menangis ketika perempuan memeluk jasad bayinya yang wafat saat sebelum adzan subuh belum usai
Juga bocah-bocah yang berbaaring di samping jenasah ibunya

Aku disini serupa batu yang berdoa lewat kata-kata mengurai luka padang pasir yang tergilas sebuah ambisi dari orang-orang yang datang untuk mengali kubur sendiri

Kuambil Rembulan di Jantungmu

Puisi  “Kuambil rembulan Di jantungmu”
:yang terhormat arwah raja Ali haji

Waktu.itulah telah membawaku mengarungi gemuruh bahasa sambil mendidihkan kata-kata
setiap bahasa memiliki tanda koma titik dan tanda baca etimologi itu
tumbuh dari kesunyian yang menggenang dalam ceruk kehidupan
kita hanya bertemu dalam baying-bayang tanpa pernah mengarungi hujan dan menjerang di bukit-bukit puisi atau gunung-gunung prosa
kubaca lagi gurindam yang telah lama diam dalam kesepian sambil mengeja surga neraka
di samping kitab suci ku ziarahi diriku yang telah lama berserak di anrata buku-buku di dalam lemari tanpa kaca
bukan sekedar eulogi kembali kutaburkan serpihan kata-kata lewat angin yang berhembus menjelang adzan subuh mengemasi malam rapuh.

Rembulan tumbuh didadamu
gurindam bersemai di celah-celah jantungmu dan berakar hingga disudut-sudut jemari.
”barang siapa memetik dan mengkaji buahnya takkan tersesat di padang kata”

Petuah melayu.mengatar rindu pada persinggahan-persinggahan waktu
sebelum mengelana di jalan-jalan yang memanjang sepanjang peradaban
berbaur bersama kepingan-kepingan cahaya yang memedar dari serpihan kehidupan
kembali kupahat rembulan yang mengapung sehabis gerimis mengetuk pagi

kemudian kuambil rembulan yang tumbuh di jantungmu.

Menccari Surga

Puisi  “Mencari Surga”

Mungkinkah waktu yang telah kulalui selalu risau saat langkah kaki ini terpojok pada lubang yang salahsurga yang ku gapai entah di mana
Bertahun-tahun kucari sambil berkeliling mengikuti  matahari berselimut hujan sambil sambiol mengenggam awan wajahku  ibu,tidak ssebersih harapanmu kadang menciptakan reruntuhan hujan dank abut dari matamu yang galau

Waktu berlalu,aku lupa mencium panggung tanganmu sementara gema takbir menyayat serpihan tubuh ini hingga kian mengecil seperti lukisan pasir dalam kanvas putih
Hari-hari tercipta seperti musim yang pergi begitu saja seperti kata-kata ku tulis terhapus percikan gelombang sementara perahu yang kukayah masih belum berlabuh

Adakah surge di baawah dermaga kasihmu ?