This is default featured slide 1 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 2 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 3 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 4 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

This is default featured slide 5 title

Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by Lasantha Bandara - Premiumbloggertemplates.com.

Rabu, 13 November 2013

Luka Padang Pasir

Puisi  “Luka Padang Pasir”

Aku melihat puing-puing rembulan di seribu satu malam mengantarkan air mata yang tumpah di tengah gurun kering para ksatria di bawah badai amunisi meneriakkan takbir sementara tentara  hitam semakin mengganas dengan sejuta muslihat mengenggam dunia yang semakin buta

Barang kali seribu satu puisi tak cukup untuk menahan duka timur tengah kembali menangis ketika perempuan memeluk jasad bayinya yang wafat saat sebelum adzan subuh belum usai
Juga bocah-bocah yang berbaaring di samping jenasah ibunya

Aku disini serupa batu yang berdoa lewat kata-kata mengurai luka padang pasir yang tergilas sebuah ambisi dari orang-orang yang datang untuk mengali kubur sendiri

Kuambil Rembulan di Jantungmu

Puisi  “Kuambil rembulan Di jantungmu”
:yang terhormat arwah raja Ali haji

Waktu.itulah telah membawaku mengarungi gemuruh bahasa sambil mendidihkan kata-kata
setiap bahasa memiliki tanda koma titik dan tanda baca etimologi itu
tumbuh dari kesunyian yang menggenang dalam ceruk kehidupan
kita hanya bertemu dalam baying-bayang tanpa pernah mengarungi hujan dan menjerang di bukit-bukit puisi atau gunung-gunung prosa
kubaca lagi gurindam yang telah lama diam dalam kesepian sambil mengeja surga neraka
di samping kitab suci ku ziarahi diriku yang telah lama berserak di anrata buku-buku di dalam lemari tanpa kaca
bukan sekedar eulogi kembali kutaburkan serpihan kata-kata lewat angin yang berhembus menjelang adzan subuh mengemasi malam rapuh.

Rembulan tumbuh didadamu
gurindam bersemai di celah-celah jantungmu dan berakar hingga disudut-sudut jemari.
”barang siapa memetik dan mengkaji buahnya takkan tersesat di padang kata”

Petuah melayu.mengatar rindu pada persinggahan-persinggahan waktu
sebelum mengelana di jalan-jalan yang memanjang sepanjang peradaban
berbaur bersama kepingan-kepingan cahaya yang memedar dari serpihan kehidupan
kembali kupahat rembulan yang mengapung sehabis gerimis mengetuk pagi

kemudian kuambil rembulan yang tumbuh di jantungmu.

Menccari Surga

Puisi  “Mencari Surga”

Mungkinkah waktu yang telah kulalui selalu risau saat langkah kaki ini terpojok pada lubang yang salahsurga yang ku gapai entah di mana
Bertahun-tahun kucari sambil berkeliling mengikuti  matahari berselimut hujan sambil sambiol mengenggam awan wajahku  ibu,tidak ssebersih harapanmu kadang menciptakan reruntuhan hujan dank abut dari matamu yang galau

Waktu berlalu,aku lupa mencium panggung tanganmu sementara gema takbir menyayat serpihan tubuh ini hingga kian mengecil seperti lukisan pasir dalam kanvas putih
Hari-hari tercipta seperti musim yang pergi begitu saja seperti kata-kata ku tulis terhapus percikan gelombang sementara perahu yang kukayah masih belum berlabuh

Adakah surge di baawah dermaga kasihmu ?

Ketika Subuh

Puisi  “ketika Subuh”

Selimut itu selallu saja mengisyaratkan maut seperti warna fajar di fallujudah dan aku masih terjebak dalam kantuk yang buruk dalam jeruji kamar dngan dinding memar karena setiao hari selalu terbakar gemuruh bahasa yang menyala tanpa dosa

Ah,subuh masih terlallu dingin setelah semalaman hujan melumpuhkan setiap mimpi yang berawal dengan ketakutan sebb setiap saat nyawa tercerabat dari akarnya jasad kita,yang tak pernah sempurna


asshalaatu Khairum minan naum . . . .”

Sebab Cinta Bukan Puisi

Puisi “Sebab Cinta Bukan Puisi”

Masihkah kau selalu mencemburui tanda baca sementara ruang-ruang imajinasi telah penuh dengan duka aku telah lelah mengelilingi setiap lekuk angin
Yang berhembus di sudut-sudut ranjang dengan rajutan kusam warna-warna kerinduan telah mengelupas dari kota asalnya

Kalimat-kalimat beku itu senantiasa kau kirimkan setiap malam bersama bintang-bintang berjatuhan diatas meja makan namun masih saja kau katakana rembulan terlelap kesepian dalam rotasi malam yang bergerak perlahan-lahan

Datanglah padaku,setelah bayangan matahari itu berlalu kemudian ucapkan selamat tinggal pada kalender-kalender masa lalu yang selam ini bereingkarnasi menjadi mimpi snyi sebab cint bukan puisi seperti yang kau nyanyikan setiap pagi


Perempuan yang Menulis Puisi di Rahimnya

Puisi “Perempuan yang Menulis Puisi Di rahimnya”

Seorng perempuan menyemai puisi diladang-ladang mimpi air mata seperti hujan yang dirindukan setiap musim semi tak ada upacara persembahan atau tetabuhan haya tercium wangi bunga-bunga yang tumbuh dari dalam hati

Seorang perempuan menyimpan puisi di dadanya selamaberbulan-bulan berthun-tahun-sambil mengeja tanda baca didepan jendela

Seorng perempuan membaca kerinduan sambil mengayuh bidik di halama batang-batang ilalang menjelma lautandan batu karang gumpalan awan seperti ombak dan sungai-sungai serupa badai sinar matahari kemudian juga menjadi puisi setelah ditanam di rahimnya

Bahasa Alam

Puisi  “Bahasa Alam”

Setiap kita lupa cuaca 
selalu saja menorehkan luka 
hutan yang ditebas,perbukitan gundul menjadikan 
hari-hari terasa mandul 
air bah mengalirkan gundah
 gempa meretakan duka dan kita teteap tak mengeja makna


Sujud kita mungkin terllu singkat dan sajadah selalu berdebu dan terlipat di balik buramnya lentera kehidupan dengan bencana yang menikam lalu meneggelamkan harapan

Sajak Petani

Puisi  “Sajak Petani”

Misalkan lumbung padi setia menanti sampai musim panen tahun ini,mungkin tak ada luka di pematang dan parit-parit irigasi yang dipenuhi air mata lalu,anak-anak akan menabuh rindu sambil bermain laying-layang sepanjang siang

Tapu cangkul terlanjur berkarat sebab berasyang dikirim dari desa tetangga telah mengerringkan sawah-sawah dan mematikan kerbau,serrta menggenangi lambung petani hingga menyisahkan risau

Dari balik  gubuknya,petani bermimpi tua memberika replica kemakmuran hanya replica dari batu,atau kayu  itu pun hanya mimpi,
Seperti sepotong likisan gugusan pulau-pulau yang hijau,yang subur tapi di huni oleh hama-hama yang bersarang di hati tuan

Barangkali di dapur,istrinya sedang menggerus nasib sambil menanak pasir yang selallu tuan taburkan di sawah mereka,sehingga tumbuh menjadi dendam atau kembang kemiskinan


Elegi Para Petani

Puisi  “Elegi Para Petani”

Kepada matahari,juga burung-burung kucangkulkan imaji di bukit-bukit,sungai,dn nagari.ladng-ladang begitu sunyi menungui ilalang dan kemarau menyanyika puisi
Kidung musim panen di pematang seperti suara detak jam yang membisikkanku jalan pulang

Sebatang kalimat,mulai bertunas dan menggeliat gabah melepuh di gudang-gudang,setelah kapal dagang menaburkan beras dari negara tetangga yang menggarami sawah-sawah melukai lambung petani di kampungnya yang kerontang

Anak-anak mengairi kata-kata di balik tumpukan,rerimbunan masa deepan yang menjelma sendu sedan,sebab musim hujan menenggelamkan harapan-harqpqn bqngku sekolah,dinding-dinding kemelaratan

Sampai roda pedati menjadi begitu menyayat bulan basah oleh keringat ,berrhulu di bukit tempat petani menabuh gendang dan kembang kemiskinan di saah-sawah yang ditumbuhi elegy juga cerita tentang gubuk-gubuk renta,beratap gulma


Akhirnya puisi juga yang tumbuh dan menguning hingga musim paen tiba,musim orang-orang memetik airmata di ematang dan ladang-ladang pembantaian yang memengal rencana daan impian

Sebuah Pertemuan

Puisi  “Sebuah Pertemuan”

Sebuah malam 
mempertemukan sepasang kepala juga sepasang hati,
sepasang risau direrumputan yang memutih
Kerinduan itu menjelma tetabuhan yang menggemaa 
sampai pagi di panggung mimpi
Seperti jejak kyai yang menyatu di bukit-bukit waktu,lengkung langit menandai detak jam yang terdiam
Lalu malam pun surut menyisahkan sebercak kisah di lembar alamanak yang terus saja bergerak

Senja Ujung Sungai

Puisi  “Senja Ujung Sungai”

Kepada riak sungai aku hanyutkan puisi rangkaian kata yang aneh ,agar mengambang dilautmu setelah senja melukis siluet tubuh kita di antara meja-meja dan dermaga yang menyatu dengan jemariku

Matahari mulai mengaram dihulu matamu yang memancarkan huruf-huruf redup seperti gumpalan awan kemerahan mengendap dilangit beku sebab cerita masih berupa rencana-rencana


Sampan nelayan menebarkan rahasia di jala-jala yang tersankut tiang jembatan terekam indah di matamu yang mengkotak biarkan imaji itu,dikayuhkan menuju senja sebab di sana segala makna bermuara

Riwayat Cinta

Puisi “Riwayat Cinta”

Setiap kali mengamati sisa airmata di pipimu aku seperti menyelami sebuah danau yang hijau karena aku ikan yang merrayap di celah rerumputan sambil meniupkan gelembng-gelembung ke permukaan Karena kau seekor bangau yang menunggu

Hingga rintik gerrimis memaksaku menjadi nelayan yang termenung di atas sampan melemparkan jala ke setiap penjuru sambil berharap terrsangkut di reranting perdu karena kau setangkai bunga yang bisu

Dengan luka yang sama,kumaknai isyarat angin sampai burung-burung yang bersarang di kepalaku mengabarkan para peri mandi didanau
Aku ingin mencuri pelangi yang melilit tubuhmu sampai lanskap senja membentuk silhuetbmerah jambu

Akhirnya buah khuldi yang kau lempar selepas malam menancap dileherku.hingga terdengar parau untuk sekadar mengucap subuah kalimat cinta
Sebab kau ingiin aku kembali menjadi ikan yang merenangi setiap danau di tubuhmu


Mallam Pinangan

Puisi “Malam Pinangan”

Aku ingin menemani hamparan swah yang memanjang di hatimu dengan padi-padi yang tumbuh dari gairah jiwaku lalu kualiri dengan sungai yang memancar dilubuk rindu
Dengarlah seruling cinta itu,mengalun sampai kepadang-padang beriring kasidah panjang di keremangan petang

Aku ingi melingkarkan sebait puisi di jemarimu sampai embun pagi memutih menghapus kesunyian kita di sepanjang pematang saat senja nama anak-anak yang tertulis disetiap bulir padi hinggaa menguning dan berwarna gadig

Semalam,aku menunggu bukit-bukit meluruhkan bunganya sebab di rambutmu yang gambut ingin kusemai doa-doa agar matamu memancarkan cahaya seperti bintang-bintang
Saat pelangi melukis arnamewarnai rumah kita ketika kau menerjemahkan isyarat angin menjadi bahasa cinta

Lihatlah,menjelang malam tuhan mengirimi bulan hingga puisi yang melekat di jemarimu berkilauan
Kunang-kunang pun menabuh reranting menjadi irama merdu burung-burung kemudian memahat kesetiaan dengan paruhnya yang meruncing karena rindu

Tiba didermaga,ayah dan ibu kita,pasangan kekasih tua itu member sebuah sampan yang ditatahkanya dari batu karang sebab laut kan mengiringi,dengan gelombang surut dan pasang saat waktu membuktikan setiap makna dari kata-lata yang kita kayuh berdua


Disungai Duku

Puisi “ Disungai Duku”

Setelah jalan dan jembatan apa lagi yang menghantuimu? Tak ada kapal-kapal masih setia memuntahkan orang dan barang

Arus sungai tetap jadi idola para pengembara yang mencintai sunyi menuju siak,bengkalis dan meranti hingga natuna dan malaka

Diseberang,para perempuan masih kuat mendayung sampan sambil menghitung rentang usia dan uban dikepala dari subuh sampai senja

Apa lagi yang menghantuimu? Para nelayan masih menjala ikan sebab di sungai ia bisa menumpuk mimpi
Seddangkan abrasi hanya sekedar mengecup bibirmu yang gambut bersama para penyeludup mengendap-endap barangkali,kau perlu curiga pada kota yang meninggalkan melupakan


Merindu Desa

Puisi  “Merindu Desa”

Tak ada lagi kokok ayam hutan dibelukartempat kita dulu saling berbagi cerita tentang burung-burung yang kabur dari sangkar,juga ikan-ikan berenang diair kerruh di semsk itu,kini hanya ada punting ganja dan Viagra

Kerikil yang dari tanah lempung menyimpan banyak cerita,tentang serrigala dan hantu pohon ara juga tujuh bidadari di rawa-rawa yang menggangu tidur kita

Tak ada lagi buah onak yang biasa kita kulum dengan penuh cinta sambil menunggu semua mimpi yang terpengal sejak pagi

Dimasa kecil aroma kebun dan lembutnya embun seakan begitu magis menyihir lading-ladang dan rerumputan menjadi hamparan puisi yang hijau


Didepan Istana

Puisi  “Didepan Istana”

di atas kereta kencana,tanpa kuda memandangi hutan sialang habis ditebang
Enam ekor rajawali bersarang di kepalanya mengasah pedang bedil meriam bunting
Tanpa serdadu dan para pemburu 
sebab kuda di gardu jaga sudah menjelma arca dari batu dan perunggu
Irama obituary mengalun dari gramofan tua manghibur anak cucu seharian di kuburan
Tikus liar dan serigala baersarang di lancing tua mengerat karat mengali sumur manabung liur
Di bawah gapura sultan menancapkan bunga sambil menampung air mata di cawan baja mengutuk para pendosa

Pantai Rupat

Puisi “Pantai Rupat”

Pasir putih ditanganmu menaburi rindu di hatiku yang tertancap dimenara suar pada senja yang samar

Belaianmu begitu lembut seperti bidadari mencumbui laut di sore yang berkabut tanpa pelangi dan matahari

Gerimis membasuh airmata dipipimu yang landai hingga air pasang membalutmu serupa selendang

Menjelang malam engkau menari gemulai beriring kompang zapin yang gamang
Tanpa penonton dan tepuk tangan 

Pantai Rupat

Puisi “Pantai Rupat”

Pasir putih ditanganmu menaburi rindu di hatiku yang tertancap dimenara suar pada senja yang samar

Belaianmu begitu lembut seperti bidadari mencumbui laut di sore yang berkabut tanpa pelangi dan matahari

Gerimis membasuh airmata dipipimu yang landai hingga air pasang membalutmu serupa selendang

Menjelang malam engkau menari gemulai beriring kompang zapin yang gamang
Tanpa penonton dan tepuk tangan 

Langgam Kuala Cinta

Puisi “ Langgam Kuala Cinta”
By : variasi legenda putrid tujuh

Bagai si empang kuala di sarang umai,aku meliaht kilau tubuhmu serupa duyung tersuruk di lubuk.kaukah si mayang sari,mayang mengurai?
Mendendangkan pantun di bawah purnama,bibir delima,kulit sutera
Ohoi. . . hatiku berkecai di hulu sungai tersebab serumpun bunga tanjung menetak jantung

Lupakan tepak sirih,gambir,pinang,dan seserpih masa lalu aaku akan mencintaimu tanpa muslihat ,gendam,nujuman dengarlah dara cik sima ! sumpahku telah berkhir di hutan pinangan bersama rambutmu yang menjuntai di rimbun bakau hatiku galau,hatiku risau,cintaku

Jangan biarkan selat memeraholeh darah,dirajam amarah karna tiga purnama tak cukup untuk menghanyutkan cintaku di sungaimu yang dipenuhi uluh nperindu sampai kau dengar langgam angin yang bertiup dari hulu mengabarkan segala kisah tentang pangeran gelisah

Akan kulayari tujuh laut,tujuh pulau,sampai ke langit tujuh untuk menemukan jiwamu,cintaku.tanpa pedang dan kelewang lalu membawamu ke gua-gua tempat para dewa melabuhkan murka agar kembali menyatu dengan tubuh yang baku tersebab air mata telah menggarami duka rindu
Aku kan bertandang lagi,tanpa gendering perangg sebab di hulu umai,perahuku ingin melayari rahimmu sampai muara tempat kita menghanyutkan segala murka karena cinta

*legenda putrid tujuh adalah cerita asmaranda yang berkembang di pesisir riau,tentang asmara tak terbalas seorang pangeran empang kuala yang menyebabkan perang dan kematian tujuh putrid kerajaan seri bunga tanjung.puisi ini merupakan variasai dan antithesis dari cerita tersebut.


Aamsal Burung

Puisi  “Aamsal burung”
By : maung day

Pada remang senja yang gamang kau ingin menjadi burung terbang di atas pagoda seperti balon udara di langit para junta

Selai waktu kau tak ingin menjadi burung sebab di padng ilalang ada moncong senapan dan sebutir kematian

Tapi kau teru berkicau di luar sarng sambil menanam risau memupuk mimpi behari-hari

Di  perbatasan kau membangun sarang dari kata-kata dan letupan asa yang tersentak

Samai jiwamu meruncing serupa bayonet para serrdadu yang siaga di gerbang kota


Musisi Tua

Puisi “Musisi Tua”

Dari balik lensa matahari pagi aku melihat jemarimu memetik sunyi menyusun beberapa simfoni di antara secangkir kopi dan sekerat roti

Di sebuah kedai kursi bambu betung menjelma panggung beriring tabuhan lautan dan deddaunan

Sepasang stiker kehidupan melekat di lekuk gitarmu yang selalu gemetar saat menerjemahkan nada dengar suara samar

Menyanyikan perjalanan yang menjadi kenangan tanpa luka mengarami cinta pada suatu masa

Disepanjang dawai ada cerita tesembunyi yang mengalun merdu dalam lagu sendu serrupa duka rindu

Tanda di Atas Pasir

Puisi  “Tanda Diatass pasir”

Badai menerbangkan pasir yang diburu para serrdadu di rerimbunan batu nisan seperti riuh ikan tersangkut jarring nelayan

Reranting di atas dangau melesat seperti peluru  ke kafe-kafe berirama sumbang di bising malam

Kau di sana,mengayuh murka sambil meniup bara yang menyala di keala sejak kapal tiba

Ini bukan sandiwara katamu,sambil meracik kata yang terserak di pinggir kota ditemani para bidadari dari ujung hati sampai mata kaki

Lalu kau tiup juga lilinyang melelehkan ingatan tentang kematian kampong halaman dan sedu sedan


Amsal Perahu

Puisi  “Amsal Perahu”
By : Machzumi Dawood (alm)

Sebuah perahu kembali ke dermaga settelah menharungi lautan kata ombak sajak badai puisi berkawan matahari dan pelangi

Beerrsebati dengan karang para petualang sambil berbagi cerita tentang cinta tentang luka

Di setiap persinggahan mengabdikan imaji di ruang paling sunyi sambil bertopeng bulan* menulis sajak untuk dia *

Beertahun-tahun mengeja silsilah kata dan muasal tanda dalam jemari* ibu puisi
Tiba dibandar paling sepi ia berorasi*
Daiantara dua perahu*:
“krtika aku tak berdarah lagi sambutlah aku dalam tanah kosongMU”

Kopi Dini Hari

Puisi  “Kopi Dini Hari”

Aku ingin mengaduk rempah yang bersari di tubuhmu hingga serpihan gula menghapus jejak malam di cangkir kaca

Aku ingin menjadi semut yang merayap di pelukmu mengecap manisnya rasa rindu dan hangatnya seteguk cinta menjelang pagi tiba

Rasa pahit di lidah dan sisa asam di mulutt seketika larut ketika bibir dan cangkir saling berpagut


Hingga endapan rempah luruh dalam lelah usai membiakkan kata dengan pribahasa paling murka

Arca Jelita

Puisi  “Arca Jelita”

Dibalik pinggul indahmu ada setngkup rahasia yang menyihir para pria untuk berburuk sangka atau menaruh cinta

Tarianmu semakin menggoda ketika lampu jalan menghentikan detak jam dari pagi hingga malam saat panas atau hujan

Barangkali ada sepasang peri yang bersimppuh ditubuhmu sambil meapal mantra peluruh jiwa pelebur murka

Goyanganmu semakin binal ketika penonton diseberang terbius irama gendang menengak liur sampai mabuk memuntahkan mimpi buruk


Keerling matamu yang liar menebar segala pesona menunggu par pria menjadi jalang atau menghunus pedang

Ketika Lampu Padam

Puisi “Ketika lampu padam”

Kulihat siluet matamu
Menyala dibalik pintu
Ada sepaasang curiga
Seperti para peronda
Digardu jaga

Langkah kaki ini
Berdetak seperti arloji
Menghilang diserambi
Bersama sebatang korek api
Menyala ganjil

Hembusan angin di jendela
Meniupkan bising malam
Dan pijar bintang
Bersiul digalaksi
Paling sepi

Berapa lama lagi
aku harus menunggu
Sambil mengeja rindu
Yang terselip dikoran minggu

Sebab masih ada cemburu
Yang menghantui
Letupan-letupan imaji
Seperti riwayat gunung apai
Ketika mati suri